Memaknai Hari Pendidikan Nasional

Semua orang mungkin tahu setiap 2 Mei kita memperingati hari itu, Hari Pendidikan Nasional. Meski saya yakin, tidak semua orang ingat kenapa harus tanggal itu. Seperti halnya juga saya yakin, hampir setiap kita mengenal Hardiknas adalah hari dimana setiap insan di lingkungan pendidikan wajib apel peringatan di Lapangan Pemkab Daerah, dengan seragam Korpri lengkap, serta upacara ala militer yang dipaksakan, dan pembacaan amanah Mendiknas yang momennya paling ditunggu karena peserta apel bisa bertukar obrolan dalam barisan.

ing ngarso sung tulodo — di depan memberi teladan
ing madyo mangun karso — di tengah membangun karya
tut wuri handayani — di belakang memberi dorongan


Ya.., sudah lama sekali rasanya pelajaran itu mengendap di ingatan. Itulah tiga kalimat dari ajaran seorang ningrat Raden Mas Soewardi Soerjaningrat yang kemudian mengganti nama menjadi Ki Hadjar Dewantara. Pelopor Perguruan Taman Siswa di Yogyakarta, yang kemudian diangkat menjadi Bapak Pendidikan Nasional dan hari lahirnya 2 Mei (1889) diabadikan menjadi Hari Pendidikan Nasional oleh pemerintah.

Membaca ulang sejarah tentang beliaulah, yang mengilhami saya membuat catatan ini. Pernahkah kita ingat apa yang telah beliau lakukan untuk memajukan bangsa ini? Pernahkah kita ingat ketika beliau harus meringkuk di pengasingan hanya karena kalimat "seandainya saya seorang Belanda" dimuat di sebuah koran?
Dan hari ini...., jika kita mau jujur berkaca, kita belumlah memberi apa-apa.
Tidak usahlah bicara soal mutu, karena meski mungkin kita mampu, kita lakukan itu karena imbalan tertentu. Atau berkata kitalah pahlawan tanpa tanda jasa, karena nyaris setiap kita 'mengingatkan' bahwa kita layak sejahtera. Kita mahfum ketika bangunan sekolah renta karena pemerintah belum memberi dana. Kita permisif ketika harus melakukan 'kebohongan bersama' demi nama baik sekolah dan daerah padahal mengorbankan kompetensi anak-anak didik kita. Kita geming meski tahu masih banyak yang harus dibaiki di sistem pendidikan kita.

Mungkin terdengar mustahil, tapi perubahan sekecil apapun bukankah masih mungkin, teman? Jadi, mari kita memaknai hari ini dengan bertekad menjadi 'guru yang sebenarnya'. Selamat hari pendidikan
.

Category:

0 komentar: